G7 Semakin Solid Hadapi Situasi di Taiwan dan Ukraina

[ad_1]

Kelompok Tujuh (G7) negara demokrasi makmur semakin solid, kata menteri luar negeri Jepang, Selasa (18/4). Kelompok itu mengkritik tekanan China yang semakin meningkat terhadap Taiwan serta ancaman Rusia untuk menempatkan senjata nuklir di Belarus di tengah invasinya ke Ukraina.

Para menteri dari Jepang, AS, Inggris, Prancis, Jerman, Kanada, Italia dan Uni Eropa itu menekankan bahwa pertemuan tersebut menjadi sebuah momen penting dalam upaya dunia menanggapi kedua krisis, yang dianggap sebagai tantangan terhadap tatanan dunia yang berbasis aturan pascaPerang Dunia II.

[related by=”latepost” jumlah=”2″ mulaipos=”1″]

Negara-negara industri itu sepakat bahwa perdamaian dan keamanan di Selat Taiwan sangat penting, ungkap Menlu Jepang Yoshimasa Hayashi, saat menggelar konferensi pers di sela-sela pertemuan para menteri luar negeri anggota G7 di kota resor Jepang, Karuizawa.

“G7 ingin mengimbau China untuk berperilaku sebagai anggota komunitas internasional yang bertanggung jawab, dan melalui dialog, kami siap menciptakan hubungan yang konstruktif dan stabil dengan China,” jelasnya.

Kementerian Luar Negeri China menyebut komunike para menteri luar negeri G7 sangat mencampuri urusan dalam negeri China, serta dengan jahat mencoreng dan mendiskreditkan negara tersebut.

[related by=”latepost” jumlah=”2″ mulaipos=”3″]

Juru Bicara Kemenlu China Wang Wenbin menyampaikan hal itu saat menanggapi sebuah pertanyaan soal komunike G7, Selasa.

“Pernyataan itu penuh arogansi, prasangka dan niat jahat terhadap China. China mengungkapkan ketidakpuasan yang kuat dan menentang dengan tegas hal ini, dan telah menyampaikan pernyataan tegas kepada negara tuan rumah pertemuan itu, Jepang,” tegasnya.

Beijing memandang Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya dan belum mencabut opsi penggunaan kekuatan untuk mengambil alih pulau dengan pemerintahan demokratis sendiri itu.

[related by=”latepost” jumlah=”2″ mulaipos=”5″]

Para pemimpin dan menteri luar negeri negara-negara G7, termasuk Prancis dan Jerman, mengunjungi China belum lama ini. Terdapat kekhawatiran yang semakin meningkat setelah baru-baru ini China mengirim beberapa pesawat dan kapal untuk melakukan simulasi pengepungan Taiwan. Beijing juga menambah pasokan hulu ledak nuklirnya dengan cepat, mengambil sikap yang lebih keras menyangkut klaimnya atas Laut Cina Selatan dan memberi bayangan skenario konfrontasi di masa depan.

Komunike G7 menyoroti betapa kedua masalah tersebut, intervensi militer Rusia dan kekhawatiran akan tindakan serupa oleh China terhadap Taiwan, telah menjadi fokus pertemuan selama tiga hari tersebut.

Upaya global untuk mengonfrontasi masalah-masalah itu di Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dihalangi oleh kerasnya pendirian China dan Rusia di Dewan Keamanan PBB.

[related by=”latepost” jumlah=”2″ mulaipos=”7″]

Dokumen yang disusun oleh para menteri luar negeri itu disiapkan sebagai templat yang akan digunakan oleh para pemimpin negara pada KTT G7 Mei mendatang di Hiroshima. Templat itu juga menyinggung masalah Iran, Myanmar, proliferasi nuklir dan “masalah serius” lainnya. [rd/jm]

[ad_2]


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *