DI tengah dunia yang makin ramai oleh kecepatan, algoritma, dan perhatian yang pendek, muncul satu gerakan yang justru lahir dari kebalikan semuanya: ketenangan, konsistensi, dan cinta pada proses.
Dari Pekanbaru, Putri Syairah Laifa Khatun Zer membangun El-Laifa Quran Academy sebagai ruang belajar Al-Qur’an yang tidak menghakimi, tidak tergesa-gesa, dan dirancang untuk menjawab kebutuhan generasi digital yang ingin dekat dengan kitab suci tanpa kehilangan rasa aman.
Akademi ini resmi berdiri pada 1 Agustus 2024 dan sejak awal membawa pendekatan yang berbeda: bukan sekadar tempat mengejar hafalan, melainkan ruang untuk hidup bersama Al-Qur’an dalam keseharian.
ADVERTISEMENT
Baca Juga:
Pameran Kanton ke-139 mencetak rekor baru dalam jumlah kehadiran pembeli luar negeri
Hisense Luncurkan XR10: Proyektor Premium yang Hadirkan Pengalaman Sinematik di Rumah

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan tagline Living the Qur’an, Loving the Journey, El-Laifa Quran Academy menempatkan proses belajar sebagai perjalanan yang layak dijalani, bukan lomba untuk terlihat paling cepat.
Laifa bukan sosok yang tiba-tiba muncul dari panggung sorotan. Perjalanannya dimulai jauh lebih awal, dari Medan dan Pematangsiantar, tumbuh dalam perpaduan nilai Jawa dan Minang yang membentuk disiplin, keteguhan, sekaligus keberanian untuk melangkah.
Sejak remaja, ia sudah bersentuhan dengan dunia MTQ. Pada 1996, ia mulai tampil di tingkat kotamadya, lalu melaju ke panggung yang lebih besar dan bertahan di sana selama puluhan tahun.
Baca Juga:
“Now Is Your Spark”: Huawei Dukung Pengguna Kendalikan Hidup dengan Teknologi untuk Seluruh Skenario
USANA Adakan Spa & Wellness Retreat Inspiratif Untuk Mendukung Perempuan di Asia Pasifik
Catatan itu bukan kecil. Dari 2004 hingga 2022, Laifa tercatat 13 kali tampil di level nasional mewakili provinsinya, dan enam kali pulang sebagai juara nasional di cabang Tahfizh serta Tafsir, termasuk kategori bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Dalam dunia yang sering menyukai kilau sesaat, konsistensi seperti ini terasa hampir langka.
Namun yang membuat kisah ini lebih kuat bukan hanya prestasinya, melainkan pilihan-pilihan setelah itu.
Laifa tidak berhenti saat namanya dikenal. Ia justru kembali belajar, menempuh pendidikan S2 Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir di Institut Ilmu Qur’an (IIQ) Jakarta, setelah sebelumnya menyelesaikan S1 Ilmu Komunikasi di Universitas Sumatera Utara.
Baca Juga:
Eternal Tower Saga (ETS) Luncurkan Tahap Open Beta pada 7 Mei 2026
Pylontech Tercantum dalam Daftar “BloombergNEF Tier 1 Energy Storage Manufacturer”
Kombinasi ini membentuk fondasi yang jarang: kedalaman ilmu sekaligus kemampuan menyampaikan pesan dengan jernih dan dekat dengan masyarakat.
Itulah yang kemudian terlihat dalam model El-Laifa Quran Academy. Akademi ini hadir sebagai jawaban atas kebutuhan banyak orang yang selama ini diam-diam ingin belajar Al-Qur’an, tetapi merasa terlambat, malu, atau tidak punya ruang belajar yang nyaman.
Ada ibu yang takut bacaannya terbata-bata. Ada pekerja yang hanya punya sedikit waktu. Ada juga mereka yang pernah patah semangat karena pengalaman belajar yang terlalu keras.
Laifa menangkap semua itu dan menjadikannya dasar pendekatan yang lebih manusiawi.
Di dalam akademi ini, pembelajaran dijalankan secara online penuh, sehingga menjangkau murid dari berbagai kota dan bahkan lintas negara.
Programnya mencakup Tajwid & Tahfizh, Tilawah, Qira’at, Tafsir, Tartil, hingga Mujawwad. Yang ditawarkan bukan kursus instan, melainkan pendampingan bertahap yang menghargai ritme masing-masing peserta.
Pilihan digital ini bukan kompromi. Justru sebaliknya, ini adalah strategi. Dalam era ketika banyak orang menjalani hidup dari layar ke layar, El-Laifa Quran Academy membaca zaman dengan tepat: pendidikan Qur’an perlu hadir di tempat orang hidup hari ini.
Itulah sebabnya ruang belajarnya bisa diakses oleh ibu muda di rumah, pekerja urban dengan jadwal padat, diaspora Indonesia di luar negeri, hingga lansia yang baru ingin memperbaiki bacaan di usia matang.
Di balik semua itu, Laifa tetap menjalani peran yang paling nyata: ibu dari tiga anak.
Di situlah lapisan humanis kisah ini menjadi semakin kuat. Ia bukan figur yang hidup dari citra kesempurnaan, melainkan sosok yang membangun sesuatu sambil tetap bergulat dengan realitas harian yang biasa dialami banyak perempuan: membagi waktu, menjaga keluarga, lalu tetap hadir untuk murid-muridnya.
El-Laifa Quran Academy sendiri dibangun dengan lima nilai utama: Qur’an-centered, humanis dan rahmah, ilmiah dan bertanggung jawab, fleksibel dan adaptif, serta konsisten dalam perjalanan.
Nilai-nilai ini bukan jargon promosi, melainkan refleksi dari perjalanan panjang pendirinya yang sejak awal percaya bahwa ilmu agama harus hadir dengan kedalaman, tetapi juga dengan kelembutan.
Kini, meski usianya masih muda, akademi ini membawa ambisi yang tidak kecil: menjadi akademi Al-Qur’an online berstandar internasional.
Bukan sekadar dikenal luas, tetapi diakui karena kualitas, metode, dan dampak nyatanya. Di tengah dunia yang serba cepat, visi seperti ini terasa justru makin relevan.
Kisah Laifa dan El-Laifa Quran Academy pada akhirnya adalah kisah tentang arah baru pendidikan Qur’an di era digital.
Tentang bagaimana teknologi tidak harus menjauhkan manusia dari nilai-nilai spiritual, melainkan bisa menjadi pintu masuk untuk pulang.
Tentang bagaimana seorang perempuan dari Sumatera Utara, dengan latar budaya yang kaya dan disiplin yang terjaga, membangun ruang yang membuat orang merasa aman untuk belajar, tumbuh, dan kembali dekat dengan Al-Qur’an.
Dan di situlah nilai terbesarnya: bukan pada seberapa cepat seseorang hafal, tetapi pada seberapa dalam ia pulang.****






















