JAKARTA – Kisah Kopi dan Dunia Islam: Ngopi Nggak Cuma Soal Cita Rasa. Ngomongin soal kopi, siapa sih yang bisa nolak godaan aromanya? Rasanya udah kayak ritual harian—kalau belum ngopi, rasanya kayak ada yang hilang.
Di Indonesia sendiri, budaya minum kopi bukan sekadar tren, tapi udah jadi gaya hidup. Dari yang muda sampai yang sepuh, semua punya cara sendiri menikmati si hitam pahit ini.
Tapi, pernah kepikiran nggak sih siapa yang pertama kali ngenalin kopi ke dunia? Ternyata, sejarahnya panjang dan punya kaitan erat dengan dunia Islam. Yuk, duduk manis sambil ngopi, kita bahas lebih santai tapi berbobot!
ADVERTISEMENT
Baca Juga:
Midea dan Keppel Berkolaborasi Mengembangkan Solusi Sistem Pendingin Modular Berbasiskan AI di Asia

SCROLL TO RESUME CONTENT
Awal Mula Kopi: Dari Sufi Yaman Sampai Ethiopia
Cerita tentang kopi nggak bisa dilepasin dari kelompok sufi Shadhiliyya asal Yaman. Sekitar abad ke-13, mereka lagi berkelana ke Ethiopia, dan di sanalah mereka nemuin biji kopi. Tapi mereka nggak cuma berhenti di situ. Biji itu digiling, diseduh, dan… boom! Jadi minuman yang kemudian kita kenal sebagai kopi.
Pas balik lagi ke Yaman, para sufi ini ngenalin minuman itu ke masyarakat setempat. Namanya? Qahwa. Bukan cuma sekadar minuman, qahwa ini dipercaya bisa bikin orang tetap melek semalaman, cocok banget buat mereka yang banyak ibadah malam. Dari sinilah, kopi mulai punya makna spiritual sekaligus fungsional.
Dari Qahwa ke Coffee: Menyebar Lewat Jalur Perdagangan dan Ibadah
Dalam Uncommon Grounds: The History of Coffee and How It Transformed Our World (2010) diceritakan, zaman dulu, Yaman itu kayak simpul lalu lintasnya para pedagang dan jemaah haji. Jadi nggak heran kalau kopi ikut tersebar ke berbagai penjuru dunia. Di abad ke-15, kopi udah populer banget di Timur Tengah, Afrika, bahkan Eropa.
Baca Juga:
Di titik ini, cara penyajian kopi makin beragam. Ada yang suka nambahin gula, ada juga yang mulai bikin tempat nongkrong khusus buat ngopi. Nah, dari situlah istilah qahwa mulai diserap ke berbagai bahasa: jadi coffee di Inggris, café di Prancis, dan tentu aja kopi di Indonesia.
Gerai Kopi Pertama: Tempat Nongkrong Sekaligus Tempat Ngobrol Politik
Minum kopi nggak sekadar buat melek. Di Timur Tengah, khususnya Mekkah, gerai kopi mulai muncul di abad ke-16. Orang-orang ngumpul, ngobrol, kadang sambil berdiskusi soal agama, kadang juga politik. Nah, di sinilah mulai muncul masalah.
Tahun 1511, penguasa Mekkah waktu itu, Khair-Beg, mulai resah. Dia lihat warga jadi ‘terlalu santai’ karena kebanyakan nongkrong di warung kopi. Malah katanya, warga jadi doyan ngomongin pemerintah. Hasilnya? Dia keluarin fatwa haram buat kopi. Semua rumah kopi disuruh tutup.
Tapi ya gitu, yang namanya udah cinta, mana bisa dilarang. Banyak warga tetap diam-diam minum kopi. Lama-lama, fatwa itu pun menguap sendiri, kalah sama popularitas si qahwa ini.
Baca Juga:
Kopi Masuk Indonesia: Warisan dari Kolonial Belanda
Lanjut ke sejarah kopi di tanah air. Kopi baru sampai ke Indonesia sekitar abad ke-18, dibawa oleh pedagang dan kolonialis Belanda. Mereka nggak cuma minum, tapi juga nanem. Beberapa daerah seperti Jawa, Sumatera, Bali, sampai Sulawesi jadi tempat ideal buat budidaya kopi.
Hasilnya? Lahir berbagai jenis kopi khas Indonesia yang sekarang terkenal di dunia. Misalnya:
- Kopi Gayo dari Aceh: aromanya kuat, rasanya seimbang.
- Kopi Toraja dari Sulawesi: punya aftertaste khas rempah.
- Kopi Kintamani dari Bali: unik banget karena ada rasa asam segar kayak buah.
Sekarang, kopi Indonesia jadi komoditas ekspor unggulan. Bahkan, banyak barista dunia yang penasaran dan bangga bisa nyeduh kopi asal Nusantara.
Budaya Ngopi di Indonesia: Dari Warung Pinggir Jalan ke Kafe Estetik
Di Indonesia, minum kopi punya gaya masing-masing. Yang klasik biasanya nongkrong di warung kopi pinggir jalan. Segelas kopi hitam panas ditemani gorengan, obrolannya bisa ngalor-ngidul sampai lupa waktu.
Tapi sekarang, budaya ngopi makin naik kelas. Kopi kekinian hadir dalam bentuk café instagramable, lengkap dengan latte art dan vibes cozy. Anak muda nongkrong bukan cuma ngopi, tapi juga kerja, belajar, sampai healing.
Hebatnya, meski gaya dan tempat berubah, esensinya tetap sama: kopi jadi teman untuk menyambung obrolan, mempererat relasi, dan tentu aja, bikin semangat balik lagi.
Warisan Islam dalam Setiap Cangkir Kopi
Seru juga ya, kalau tahu ternyata kopi yang kita minum tiap pagi punya akar sejarah dalam dunia Islam. Dari sufi di Yaman, menyebar lewat jamaah haji dan pedagang, sampai akhirnya bisa dinikmati jutaan orang dari berbagai latar belakang.
Nggak cuma itu, warisan ini juga mengajarkan soal koneksi sosial. Karena kopi, kita bisa ngobrol, belajar, dan bahkan berdiskusi serius sambil santai. Dari masjid, kafe, sampai rumah—kopi punya tempat di hati semua kalangan.
Kopi Bukan Sekadar Minuman, Tapi Cerita Panjang Peradaban
Sekarang, tiap kali Anda seruput kopi, coba pikirkan sejenak: minuman ini nggak hadir tiba-tiba. Ia membawa cerita sejarah, budaya, spiritualitas, bahkan perlawanan. Mulai dari sufi yang ingin melek buat ibadah, sampai pemuda masa kini yang butuh kopi buat kerja lembur.
Kopi adalah penghubung antar zaman, antar budaya, bahkan antar manusia. Dan berkat peran besar dunia Islam, kita semua bisa ikut menikmati si hitam manis ini dengan penuh rasa syukur.[]
Sumber Berita : cnbcindonesia





















